|
Written by Daud Rasyid
|
|
Thursday, 08 November 2007 |
|
Politik Islam Politik Islam adalah aktifitas politik yang didasari oleh nilai/prinsip Islam, baik dari titik tolak (starting point),program, agenda, tujuan, sarana dan lainnya harus sesuai dengan petunjuk Islam. Oleh karenanya, di lapangan, politik Islam harus tampil beda dengan politik non Islam. Jika politik konvensional bisa menggunakan cara apa saja untuk mencapai tujuannya, maka politik Islam tidak boleh demikian. Ada variabel lain yang harus diperhatikan, seperti etika Islam, ketentuan hukum Islam dll. |
|
Read more...
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Thursday, 08 November 2007 |
|
Kata `takalluf’ berasal dari akar kata `ka-la-fa’ yang berarti beban. Dari akar kata ini, berkembang menjadi `kallafa’ dan taklif (tugas), selain berkembang menjadi takallafa dan takalluf. Yang terakhir ini dapat diartikan sebagai memaksakan diri untuk memikul kewajiban di luar batas kemampuan. Di dalam Islam, takalluf tergolong sifat yang tercela alias tak terpuji. |
|
Last Updated ( Thursday, 08 November 2007 )
|
|
Read more...
|
|
|
Islam Yes , Partai Islam Yes |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Monday, 09 September 2002 |
|
Diskusi tentang "Partai Islam" belakangan ini semakin semarak karena pihak yang pro dan kontra sama-sama mengajukan hujjahnya. Bagi yang tidak setuju alasannya adalah lagu lama Orde Baru yaitu kekhawatiran akan timbulnya keruncingan yang berbau SARA. Walapun istilah SARA itu sendiri adalah terminologi yang diciptakan rezim waktu itu untuk menghajar kekuatan politik umat Islam. Entah kenapa term tersebut masih saja membeku di benak sementara orang di era reformasi ini, padahal rezim Orde Baru sendiri sudah tumbang dalam sebuah gerakan massal. Pemberhentian Suharto itu sendiri dalam visi Islam adalah "karunia" Allah kepada umat Islam Indonesia. Ini sangat penting ditekankan untuk memelihara kemurnian aqidah umat. Hanya saja difasilitatori oleh sebuah gerakan rakyat yang sering dikenal sebagai "Gerakan Reformasi" dimana mahasiswa merupakan bagian integral didalamnya. |
|
Read more...
|
|
|
Membedah Politik Islam yang Lumpuh |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Monday, 09 September 2002 |
|
Bila kita amati secara kasar kondisi politik Islam, sejak kemerdekaan hingga kini, kesan yang muncul ialah bahwa politik Islam sedang mengalami kelumpuhan. Pada masa Soekarno, politik Islam memang pernah tampil di panggung kekuasaan, dimana alm. M. Natsir sebagai Ketua Masyumi pernah menduduki jabatan Perdana Menteri. Tetapi itu tidak berjalan lama, lalu kemudian Masjumi dibubarkan dan akhirnya hanya tinggal dalam catatan sejarah. Artinya politik Islam tidak bakal dibiarkan bergerak maju secara alamiah oleh musuh-musuh Islam. Ia pasti dijegal, dikebiri hingga benar-benar tak berdaya. Pada masa orde baru, kondisinya lebih parah lagi. Kendatipun ummat Islam –yang notabene menjadi basis parpol Islam- berjuang mati-matian menumpas komunisme dan –alhamdulillah- berhasil, namun keberhasilan itu tidak membuat Suharto merasa perlu membalas jasa. Bahkan politik Islam dia basmi, hingga dia ciptakan istilah ‘ekstrim kanan’ untuk menyebut mereka yang ingin memperjuangkan politik Islam. Priode orde baru sarat dengan rekayasa-rekayasa politik dalam rangka menghancurkan politik Islam. Bahkan bukan hanya parpol Islam yang jadi sasarannya, ormas-ormas Islampun ikut dalam target sasarannya. Ormas-ormas Islam tidak diperbolehkan mencantumkan asas Islam. Yang jadi asas haruslah ‘pancasila’. Ormas-ormas Islam disusupi oleh agen-agen intel untuk mengobrak-abrik dari dalam dan memunculkan konflik-konflik internal, hingga semuanya harus menyerah dan meminta bantuan kepada rezim orde baru. |
|
Read more...
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Monday, 09 September 2002 |
|
Hari-hari ini kita berada dalam suasana yang mendebarkan, siapakah yang akan berkuasa setelah pemilu di era reformasi ini. Dimasa kampanye berbagai isu yang menakutkan berkembang di masyarakat. Tidak sedikit yang kabur ke luar kota, seperti ke Sumatera, bahkan keluar negeri. Bandara Soekarno-Hatta menjadi saksi atas kekhawatiran itu. Hari Selasa, yakni sehari sebelum kampanye dimulai, antrean panjang terlihat di kounter Garuda di Cengkareng. Yang terbanyak kelihatan dari mereka adalah etnis minoritas yang sering merasa dirinya dikejar-kejar oleh rasa takut. Isu kerusuhan itu, bisa saja muncul karena trauma masa lalu yang hanya ada tiga parpol, namun kampanye menelan korban cukup dahsyat. Konon lagi sekarang ada 48 partai yang bertarung, akan berapa lagi jumlah korban yang mungkin jatuh.Mungkin juga karena kejadian-kejadian prakampanye. Sebelum kampanye saja sudah terjadi bentrokan antar massa pendukung parpol, konon lagi masa kampanye. Namun isu itu kadangkala terlalu dibesar-besarkan baik disengaja atau tidak sengaja. Yang penting bagi mereka ialah bagaimana caranya membuat orang tidak tenteram. Al-hamdulillah pemilu usai dan keadaan aman-aman saja, kecuali korban-korban kecil yang lumrah dalam masa kampanye. Sebagai umat Islam kita seharusnya tidak terpengaruh oleh isu-isu itu. Karena tumpuan dan tempat bergantung kita hanya Allah swt. Dialah yang memberi ketenangan kepada hambaNya. |
|
Read more...
|
|
|
|